Tuan Situmorang memiliki dua orang anak
yaitu: Panoparaja dan Op. Pangaribuan. Panopa Raja memiliki dua anak yaitu Op.
Niambolas dan Parhujobung. Sedangkan Op. Pangaribuan hanya memiliki seorang
anak yaitu Raja Babiat. Op. Niambolas memiliki dua anak yaitu Lumban Pande dan
Lumban Nahor. Parhujobung memiliki dua anak yaitu Suhutnihuta dan Tuan Ringo. Sedangkan Raja Babiat memiliki tiga orang anak yaitu: Dari
Mangambat (Sitohang Uruk), Raja Itubungna (Sitohang Tonga-tonga) dan Op.
Bonanionan (Sitohang Toruan).
Ompu tuan Situmorang
kepada ketujuh cicitnya Lumban Pande, Lumban Nahor, Suhutnihuta (ketiganya
hingga saat ini tetap menggunakan marga SITUMORANG), Tuan Ringo (keturunannya ada yang tetap memakai marga Situmorang, ada yang memakai marga Siringoringo dan memakai marga RUMAPEA) dan ketiga
saudaranya yang lain Dori Mangambat, Raja Itubungna dan Ompu Bonanionan (ketiga
yang terakhir ini umumnya saat ini menggunakan marga SITOHANG) berpesan agar
keturunan ketujuh cicitnya itu dipanggil dengan pomparan ni “SIPITU AMA”.
Op. Tuan Situmorang selanjutnya
berpesan juga kepada ketujuh cicitnya itu agar mereka semua memperlakukan anak
yang lain sebagai anak diri sendiri: “Sisada lulu di anak, sisada lulu diboru”
. Dan bahwa keturunan mereka bertujuh tidak boleh saling menikah satu sama lain
sampai akhir zaman. Ketujuh cicit Op. Tuan Situmorang tadi mengiyakan dan
menerima pesannya sebagai padan (janji).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar